Berita Malam Ku(18+)

WEBSITE JUDI ONLINE TERBAIK DAN TERPECAYA

`SELAMAT DATANG DI 99TAIPAN.COM AGEN KARTU ONLINE TERBAIK DAN TERPERCAYA MINIMAL DEPOSIT&WITHDRAW 20.000 BONUS TURNOVER [0.3%] BONUS REFFERAL [15%] CONTACT : • BBM : D8A0668C | SKYPE : Taipan99 | WHATSAPP : +855-8790-1038 | LINE : Taipan99 | IG : cs_taipan99 • WA : +85587840657

Senin, 09 April 2018

Pura Pura Tidur Sambil Bercinta

Pura Pura Tidur Sambil Bercinta
99Taipan.com | Taipan Indonesia | Taipan Asia | Bandar Taipan | BandarQ Online | Domino99
Cerita ini diceritakan oleh seorang yang sudah mengalami dari kisahnya sendiri, dia seorang mahasiswa dia menjadi pemeran utama, kejadian itu terjadi saat beberapa orang tidur bersama di tempat KKN atau praktek kerja nyata, karena beliau tidak ingin namanya disebar luaskan maka cerita ini namanya disamarkan.

Ternyata tidak terasa waktu hampir sudah selesai, sudah memasuki bulan kedua untuk menjali KKN di Kab. Semarang, dalam pembagian kelompok kita berjumlah 5 cewek dan 3 cowok, karena baru merasakan susahnya dalam melaksanakan tugas tugas selama KKN, dari keluar masuk desa jalannya masih berbatu, penerangan ala kadarnya di sepanjang jalan, mandi di sendang terbuka tanpa dinding, seperti hidup di alas menurut saya dengan suasana yang masih alami.

Tak jarang kami mengalami konflik karena setiap individu mempunyai prinsip masing masing. Karena kami datang dari daerah yang berbeda beda dan jurusan yang berbeda, tapi kami mempunyai tujuan yang sama karena ini menyangkut nama almamater kampus.

Kalau ada yang sakit, seisi Posko bergantian merawat dan memberi perhatian. Mesra sekali hubungan persaudaraan kami. Mendekati berakhirnya masa KKN, dibalik rasa senang karena tugas berat sudah berakhir, terbersit rasa sedih, takut berpisah dan tidak ketemu lagi. Kadang sampai larut malam kita tidak tidur, berkumpul di kamar depan, karena hanya ada dua kamar di posko itu. Aku pegang gitar, mengiringi teman-teman menyanyi lagu-lagu nostalgia.

Lelah menyanyi berbicang-bincang membicarakan masalah pribadi, bahkan mencurahkan rahasia terdalam. Tentang keluarga, tentang pacar masing-masing, tentang suami atau isteri masing-masing. Para Pembaca perlu tau, bahwa ketiga cowok sudah berkeluarga, tetapi hanya 1 cewek yang sudah berkeluarga, Mbak Etty atau teman-teman panggil beliau Bu Etik. Yang empat itu masih gadis, tetapi mereka mengaku sendiri sudah tidak perawan lagi.

Benar-benar tak ada rahasia di antara kami. Karena sudah mengantuk dan lelah ada yang tertidur di situ juga, malas masuk kamar. Akhirnya sampai pagi kita tidur di kamar depan semua. Hari pertama atau itu malam pertama kita tidur bersama di satu tempat. Tak terjadi apa-apa sampai pagi. Semua bangun pagi dengan selamat tak kurang suatu apa.

Penarikan mahasiswa KKN tinggal 10 hari lagi. Semua sibuk finishing program masing-masing. Aku dan Mbak Etty kebagian mempersiapkan pentas seni. Kita bekerja berpacu dengan waktu. Kami benar-benar sudah lelah lahir batin. Sampai di Posko sudah jam sembilan malam. Seperti sudah ada kesepakatan sebelumnya, kita tidur jadi satu lagi. Endah dan Mbak Etty mengapit aku. Endah memelukku . Kaki Bu Etik menimpah pahaku, berat. Joko berpelukan dengan Yuni, Ponijan yang mirip Temon itu malah dipeluk dua cewek cantik, Marsitah dan Duwik.

Karena kaki Bu Etik cukup berat, maka terpaksa kuangkat, akibatnya selimutnya melorot dan pahanya yang mulus itu terpampang jelas di depanku. Berdesir darahku, tapi kucoba tepis pikiran kotor yang melintas sesaat. Bu Etik itu ternyata cantik juga, mirip Camelia Malik. Kesibukan tugas membutakan mataku terhadap kecantikan ibu beranak satu ini.

Karena sibuk mengurusi kaki Bu Eti, aku terlepas dari pelukan Endah. Aku meluruskan kaki dan membenahi letak sarungku, bermaksud tidur lagi. Begitu aku merebahkan diri, meletakkan kepala di bantal, Bu Etik langsung miring ke arahku dan memeluk aku !! Entah sengaja atau tidak, tangannya tepat di atas kemaluanku.

Hangatnya tangan Bu Etik terasa sekali. Membuat si kecil itu mengedut dan pelan-pelan bangkit. Akal sehatku bermaksud menyingkirkan tangan nakal itu, tapi bisikan setan lebih kuat, maka kubiarkan tongkat wasiatku membesar dan memanjang. Sekarang, tangan Bu Etik bergerak mengurut kemaluanku yang masih tertutup sarung. Genggaman tangannya semakin erat, tapi semakin lembut. Kuamati matanya, masih tertutup.

Tapi aliran nafasnya bukan seperti orang tidur, nafasnya berat dan cepat. Aku belum berani bereaksi, masih ragu-ragu dan juga kawatir kalau menyinggung perasaan beliau, jika kuhentikan. Dia adalah Kepala Sekolah yang berwibawa. Kalau aku berani pegang dia dan marah, bisa panjang urusannya. Satu-satunya yang aman kulakukan adalah membebaskan si kecil dari CD dan sarung yang membuatnya terjepit.

Setelah tidak terhalang sarung, telapak tangan Bu Etik semakin terasa panas menggairahkan. Badanku panas dingin. Menahan rangsangan itu sampai gigiku gemeletuk seperti kedinginan. Kesadaranku makin lama makin hilang, otak sudah dikuasai rangsangan birahi yang menggelegak. Tanganku segera mencari sasaran. Kuraba sudut gelap di pangkal pahanya……astaga…….tak memakai CD dan sudah banjir…..??

Karena posisiku berhadapan tetapi lutut Bu Etik melipat ke depan, aku pindah ambil posisi di belakang beliau. Kini aku menghadap ke arah Endah, tetapi berada di belakang punggung Bu Etik. Wanita cantik setengah baya ini masih merem, tetapi tangannya terus mencari kemaluanku. Saat penisku kutempelkan di vaginanya yang berambut lebat itu, tangannya aktif menuntun masuk dan 

…..blesssss……diiringi dengusan nafas Bu Etik dan dengkur halus orang-orang di depanku, aku terus maju mundur menyodok lubang basah Ibu Kepala Sekolah ini.

Dinding vaginanya meremas-remas tongkatku. Jika Endah membuka mata, tentu melihat pemandangan indah, bagaimana tongkat hitam jelek membelah bibir merah sumber kenikmatan. Lubang itu mengeluarkan cairan berbusa yang mengakibatkan tongkat hitam itu dipenuhi busa putih. Lendir kenikmatan. Tusukan itu begitu dalam menembus rahim wanita yang cantik ini. Wajahnya yang anggun masih terpejam.

Buah dadanya seakan mau tumpah keluar, terguncang-guncang karena sodokan-sodokan yang menggetarkan. Lama berpisah dengan keluarga, menjadikan wanita anggun ini kehausan. Tiba-tiba Bu Etik meluruskan kakinya dan mengubah posisi tidurnya telentang. Kucabut penisku dan kini kutusuk dari atas. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, kubuka selimut yang menutupi dadanya. Kunaikkan BH hitamnya dan muncullah penampakan luar biasa. Buah dada yang montok , kenceng dan putih.

Tak sabar bibirku ngenyot putting-putting merah jambu itu bergantian. Di bawah sana, pantat Bu Etik bergerak muter-muter disertai desahan lirih;

” Uuhhhh….uhhhh…….uhhh…..” Seluruh pahanya kini terbuka dan dinaikkan, kedua tangannya memegang pahanya yang merapat ke dadanya, sehingga lubang kenikmatannya semakin lebar. Memudahkan penisku untuk keluar masuk. Mengetahui beliau sudah semakin basah mendekati orgasme, gerakan kupercepat, makin cepat dan

………oohhhhh…… kukeluarkan cairan kepuasan itu di dalam!!!! Bu Etik langsung tidur tanpa membereskan kainnya yang tersingkap dan buah dadanya yang luber ke mana-mana. Maka kurapikan seperti semula. Di wajahnya terlihat senyum kepuasan. Kini nafas Bu Etik mengalir teratur. Dengkurnya halus.

Beliau sudah tertidur pulas membawa mimpi indah. Tak lama aku pun menyusul menuju ke pulau impian. Tapi tengah malam sekitar jam dua aku terbangun oleh suara berisik. Aku tidak bangun, hanya membuka mata, dan meilhat pemandangan langka. Marsitah yang putih mulus itu bertelanjang dada, sedang “naik kuda”.

Ponijan cowok hitam berotot tapi berwajah lugu itu, ngorok keras, sementara tongkat hitamnya yang besar keluar masuk lubang kenikmatan Marsitah yang ayu. Tangan Sitah meremas-remas payudaranya sendiri. Gerakannya liar semakin lama semakin cepat. Sampai akhirnya dia ambruk di dada Ponijan yang terus ngorok seperti suara gergaji.

Ternyata jika nafsu sudah bicara, cewek se-ayu Marsitah bisa “makan” dengan lahap “bodin” Banyumasnya Ponijan yang hitam legam itu. Memikirkan hal itu ototku tegang lagi. Sayang sekali, tidak lama kemudian sudah terdengar azan Subuh. Tapi KKN belum berakhir. Disutlah cerita yang dikirimkan oleh seorang mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN di Kab. Semarang.

Pengalaman Mesumku Dengan Pelajar Kampus

Pengalaman Mesumku Dengan Pelajar Kampus
99Taipan.com | Taipan Indonesia | Taipan Asia | Bandar Taipan | BandarQ Online | Domino99
Wulan dalah Teman kampusku yg berasal dari Bali, tubuhnya langsing dan tinggi sekitar 167cm dan kutaksir Bra-nya berukuran 33 B. Tetapi Aku tidak terlalu akrab dengan Wulan, karena sejak awal kami tidak pernah sekelas. Tetapi dia aktif di Koran kampus maka kami cukup sering ngobrol.

Kebetulan akhir semester kampus kami mengadakan lomba dan Dosen memintaku dan Wulan untuk menjadi pengurus. Karena batas waktu pengumpulan data peserta sudah mulai dekat, sedangkan kami belum punya data-data mereka.

Maka aku sepakat dengan Wulan untuk berdiskusi sewaktu pulang kuliah. Enaknya ketemu di mana dong… ? tanyaku kepada Wulan di kantin Serah kamu aja lah”jawabku

Gini aja deh, Di kostanmu juga gpp, soalnya kalau di kostanku kamu cuma boleh masuk sampai teras”sambung Wulan dan Akhirnya aku memberikan alamat kostanku kepadanya. Sore harinya BBM masuk dari Wulan.

”aku sudah sampai di lokasi, kostanmu yang dekat mananya..?” BBMnya

Mendapat pesan bbm seperti itu, aku langsung membalasnya dan segera turun. Ketika bertemu aku mengajaknya masuk ke dalam kostanku. Wulan memandangi sekeliling kamar tersebut” Kok sepi? pada kemana ya…? tanyanya

Yang punya kostan belum pada pulang dari kampung Ulan” ucapku membuat dia jangan panic karena berada sendirian. Apalagi sore itu Wulan memakai kaos super ketat yang bisa dibilang bentuk tokednya pun kelihatan bulatnya. Kelihatan lebih cantik hari ini.

Mengunci pikiran kotorku, Kamipun mulai fokus mengerjakan tugas, aku mencoba mengumpulkan data-data tersebut. Kemudian Wulan mengetiknya di komputer, Baru aja beberapa menit kami memulai tugas. Aku mendengar ada orang yg memanggil-manggil ibu kost di bawah.

“bentar ya Lan, aku liat orang di bawah dulu” kataku sambil keluar kamar.

Wulanpun mengangguk sambil terus mengetik. Ternyata dibawah ada ibu RT meminta biodata penghuni kostan, karena ibu kostku tidak ada jadi aku yang mewakilinya, Setelah selesai mengisi formulir ibu RT pun pergi.

Aku kembali lagi ke kamar tanpa berpikir macam-macam dan sengaja melangkah perlahan-lahan mendekati pintu kamarku yang berniat menganggetkannya. Namun, aku lihat di dalam kamarku Wulan sedang memutar film bokep yang aku koleksi. Ntah itu dia ngak sengaja muter atau emang beneran pengen nonton.

Sontak aja aku kagetkan dirinya dari belakang…

Hayyoooo… lagi ngapain kamu…” aku mengagetkannya.

Wwaaaaaaaaaaa………….” teriak Wulan menjerit

Ngapain hayoo, buka film kayak gitu” tanyaku Idiiiihh ngak sengaja kok, lagian buat folder yang aneh-aneh. masa kata depannya “Jangan dibuka” begitu di buka lagi ada folder lagi.

“Coba klik sekali lagi”, lalu “Pengen tau yaa..?” terus aja kayak gitu makanya aku buka. Eeehhh ternyata film beginian” ucapnya menjelaskan kepadaku

Hahahaha… Aku pun tertawa terbahak-bahak mendengar itu.

Tampak Wulan mukanya memerah menjadi malu ketika aku memergokinya. Lantaran dia malu kepadaku, dia mengakhiri tugas sore itu dengan pamit pulang.

“aku mau pulang aja deh” katanya dengan singkat.

Kemudian aku mencekal dengan menarik tangannya. Mungkin karena malu dia aku pergoki makanya jadi emosi” pikirku dewasa Kembali aku tarik lagi tangannya dengan lembut, tetap saja di tangkis dengannya. Walaupun dia menangkis tetap saja tenagaku lebih kuat dari padanya. Begitu aku tarik, posisi kami langsung berhadapan saling tatap.

Sadar tidak mungkin melepaskan diri dari peganganku, karena kalah tenaga. Akhirnya dia membuang muka. sehingga aku hanya bisa berbisik.

“maaf kalau aku buat kamu malu Lan..”

Lagian kita udah sama-sama dewasa gpp kok, kita terbuka.”ucapku dia masih tak mau menatap wajahku.

Entah kenapa kata-kata yg keluar berikutnya dari mulutku yaitu “atau kamu mau aku bantu?” Mendengar perkataan itu.”dia memandangku dengan tatapan marah, kembali ia berusaha melepaskan peganganku sambil berteriak” Kamu anggap aku cewek apaan…?

Sadar dengan kesalahanku, aku mencoba menariknya lebih kuat dan menyandarkan tubuhnya di dadaku.

” Maaf… maaf… aku ngak maksud merendahkan kamu.”kataku sambil membelai rambutnya.

Ternyata hal ini sedikit meluluhkannya, tangannya yang tadi berontak kini hanya diam aja. bahkan dia malah memeluk tubuhku dan aku membalas pelukan dengan erat. Aku mengajaknya kembali duduk di kasurku, sambil melirik ke arah komputer yang masih menayangkan film bokep tersebut.

Masih dalam posisi duduk dan dalam pelukanku, aku terus saja membelai rambutnya. Tak lama kemudian, dia membalikan badan dan menatap wajahku dengan serius…

Kamu yakin sama aku…? tanyanya

Hmmmm… Yakin apa…? tanyaku kembali

Langsung dia menciumi bibirku dengan dahsyat. Tanpa pikir panjangpun aku meladeni ciuman darinya itu. Sambil remesin susu aku dong..” pintanya

Aku mengangguk dan langsung melakukan yg ia pinta. Ga kurang akal, aku mulai merayunya” ngak berasa kali Lan.

”BH nya buka juga dong” balasku

Dia mengiyakan dan segera membuka tali BH nya. Begitu BH nya terbuka, suer puting susunya masih berwarna Pink, kelihatan anggunnya puting susu tersebut dan aku yakin jarang sekali lelaki yang berhasil menghisap puting itu.

Setelah toketnya terbuka, tanpa menunggu persetujuan aku langsung menghisap dengan semangat. kuhisap dan kadang kugigit pelan-pelan supaya dia menikmati permainanku.

Aaaahhhh… Aaahhhh… Terdengar suara rintihannya.

Karena kontolku sudah sangat tegang, aku mulai memperkenalkan kepadanya. Lan, kamu mau ngak ini…? tanyaku

Mau dong hehehe…” jawabnya

Langsung saja aku arahkan ke lubang memeknya yang tanpa pelumas dari sepongannya itu. Begitu kontolku masuk.

“Hmmmm….Sssshhhhhh….Arggghhhhh” terdengar suaranya.

Aku terus saja bergerak menyodok mekinya, makin lama makin seru pula suaranya.

Ahhhhhh… Aaaaahhhhh… “terdengar kembali suaranya menjerit, untungnya di kostan itu tidak ada orang sehingga aku tidak mengkhawatirkan jeritannya itu.

Akhirnya penisku yang besar amblas juga di telan memeknya. Sungguh super sekali memeknya terasa sempit dan mencengkram.

Aku meminta Wulan untuk membantu goyangannku agar kami cepat-cepat orgasme, karena khawatir di kostan bisa di pergoki orang lain berlama-lamaan.

Wul… Bantu goyangin ya, biar tambah enak” ucapku

Untungnya Wulan mengerti dan dia dengan singgap menggoyangkan pantatnya yang dari tadi kami sudah berposisi doggy syle.

Uuuuuh… Uuuuuhhh… Uuuhhh… “desahku merintih keenakan

Sambil menahan muncratan sperma, aku mengajak dia ngobrol. Wul, posisi kayak gini enak gak…?

Enak banget Beb, karena kau tinggal maju mundur aja dan kerasa juga dari bibir memekku yang menjadi panas berkat gesekan penismu.” ucapnya

Aku dengan segera kembali melakukan kocokan dengan cepat, hingga di akhir goyangan aku mencabut penisku dan memuncratkan di sekitar pantatnya yang sedang nungging.

Croooootttt… Crot..” air maniku mengalir panjang Sungguh luar biasa mekinya Wulan, masih sempit dan mencengkram.

Mau tissu ngak Wul…?”tanyaku

Mau dong beb, untuk aku ambilin dua ya tissunya” ucapnya

Setelah kami beres-beres membersihkan airmani yang muncrat sana-sini. aku mengajaknya kembali berbincang soal tugas.

Gimana Wul… Tugasnya mau kita lanjutin…? tanyaku

Hhhmmm… jangan sekarang deh beb, tanggung kita abis ginian. kapan-kapan aja deh ya atau ngak besokpun boleh” jawabnya sambil tersenyum

Akhirnya kami akhiri tugas itu yang bukan tugas kuliah. tetapi tugas hasrat yang terpenuhi

Hubungan Gelap, Bercinta Tanpa Ada Yang Tahu

Hubungan Gelap, Bercinta Tanpa Ada Yang Tahu
99Taipan.com | Taipan Indonesia | Taipan Asia | Bandar Taipan | BandarQ Online | Domino99
Selamat datang di Berita Malam Ku Persembahan layar dewasa. saat ini Berita Malam Ku ingin membagikan cerita yang berjudul Hubungan Gelap Dengan Sahabat Ayahku sebut saja Namanya Icar, Bercinta Tanpa Ada Yang Tahu. 

Icar, 35 tahun juga cukup dikenal akrab oleh Sinta karena dia sering bertandang di rumah. Pada penampilan luarnya Icar bertampang simpatik dan malah kelihatan sebagai orang alim, tapi kenapa sampai bisa berhubungan dengan Sinta ini awalnya cukup konyol.

Secara kebetulan keduanya saling kepergok di sebuah hotel ketika masing-masing akan melakukan perbuatan iseng. Icar saat itu sedang menggandeng seorang pelacur langganan tetapnya dan Sinta saat itu sedang digandeng dr.Budi. Keduanya jelas-jelas bertemu di gang hotel sama-sama tidak bisa mengelak. Tentu saja sama-sama kaget tapi masing-masing cepat bisa bersandiwara pura-pura saling tidak kenal.

Kelanjutan dari itu masing-masing sepakat bertemu dikesempatan tersendiri untuk saling menjelaskan dan membela diri. Bahwa kalau Sinta mengaku hubungannya dengan dr.Budi karena kena bujuk diajak beriseng dan cuma dengan laki-laki itu saja, sedang Icar mengaku bahwa dia terpaksa mencari pelarian karena Vera, mantannya, katanya sudah kurang bergairah menjalankan kewajibannya di tempat tidur. Masuk akal bagi Sinta karena dilihatnya Vera yang gemuk itu memang lebih sibuk di luar rumah mengurus bisnis berliannya.

Itu sebabnya, Icar liar di luaran. Dari pertemuan itu masing-masing nampak sama ketakutan kalau rahasianya terbongkar di luaran. Sinta takut hubungannya dengan dr.Budi didengar orang tuanya sedang Icar juga lebih takut lagi nama baiknya jadi rusak. Berikutnya karena kadung sudah saling terbuka kartu masing-masing, keduanya yang berusaha agar saling menutup mulut jangan membuka rahasia ini justru menemukan cara tersendiri yaitu dengan membuat hubungan gelap satu sama lain. Ide ini terlontar oleh Icar yang coba merayu Sinta ternyata diterima baik oleh Sinta.

Singkat cerita kesepakatan pun tercapai, cuma ketika menjelang janji bertemu di suatu tempat di mana Icar akan menjemput dan membawa Sinta ke hotel, Sinta meskipun melihat tidak ada salahnya mencoba iseng dengan Icar tidak urung berdebar juga jantungnya. Tegang karena partner kali ini hubungannya terkait dekat. Sekali meleset dan terbongkar bisa fatal urusan malunya. Begitu juga waktu sudah semobil di sebelah Icar, sempat kikuk malu dia. Pasalnya Icar yang sebenarnya juga sama tegang karena kali ini yang dibawa adalah teman dekat anak gadisnya, dia hampir tidak ada suaranya dan pura-pura sibuk menyetir mobilnya sehingga Sinta didiamkan begini jadi salah tingkah menghadapinya.

Tapi waktu sudah masuk kamar hotel dan mengawali dengan duduk ngobrol dulu merapat di sofa, di situ mulai ke luar keluwesan Icar dalam bercumbu. Sinta pun mulai lincah seperti biasa pembawaannya kalau sedang menghadapi dr.Budi. Genit manja jinak-jinak merpati membuat si  Icar tambah penasaran terangsang kepadanya. Waktu itu dengan mesra Icar menawarkan makan pada Sinta tapi ditolak karena masih merasa kenyang. “Aku minta rokoknya.. Sinta pengen ngerokok.” pinta Sinta sebagai alternatif tawaran Icar.

“Oh ngerokok juga? Iya ada, mari saya yang pasangin.

"Saya nggak tau kalo Sinta juga ngerokok.”

“Cuma sekali-sekali aja, abis deg-degan pergi sama Icar ke sini.” jelas Sinta menunjukan kepolosannya.

“Kok sama, Icar  juga sempat tegang waktu bawa Sinta di mobil tadi, takut kalo ada yang ngeliat.” 

Masing-masing sama mengakui apa yang dirasakan selama dalam perjalanan. Sinta mulai menggoda  Icar.

“Masa udah tegang duluan, kan belum apa-apa Icar ?” godanya dengan genit.

“Oo yang itu memang belum, tapi jantungnya yang tegang.” jawab Icar setelah membakar sebatang rokok buat Sinta yang sudah langsung menjulurkan tangannya, tapi masih belum diberikan oleh Icar.

“Mana, katanya mau pasangin buat Sinta?” “Sebentar, sebelum ngerokok bibirnya musti cium dulu..”

Menutup kalimatnya Icar langsung menyerobot bibir Sinta memberinya satu ciuman bernafsu, dibiarkan saja oleh Sinta hanya setelah itu dia menggigit bibir malu-malu manja menyandarkan kepalanya di dada Icar sambil menyelingi dengan merokok yang sudah diterimanya dari Icar.

Melihat ini Icar semakin berlanjut. “Bajunya basah keringetan nih, bukain ya biar nggak kusut?” katanya menawarkan tapi sambil tangannya yang memeluk dari belakang mulai mencoba melepas kancing baju Sinta.

Lagi-lagi Sinta tidak menolak. Dengan gaya acuh tak acuh sibuk mengisap rokoknya, dia membiarkan Icar bekerja sendiri malah dibantu menegakkan duduknya agar kemejanya dapat diloloskan dari lengannya membuat dia tinggal mengenakan kutang saja. Sinta memang sudah terbiasa bertelanjang di depan lelaki, jadi santai saja sikapnya.

Tetapi ketika tangan Icar menyambung membuka reitsleting belakang rok jeans-nya dan dari situ akan meloloskan rok berikut celana dalamnya, baru sampai di pinggul Sinta menggelinjang manja. 

“Ngg.. masak aku ditelanjangin sendiri, juga buka dulu bajunya?”

“Iya, iya, Icar  juga buka baju..” Segera Icar melucuti bajunya satu persatu sementara Sinta bergeser duduknya ke sebelah.

Berhenti dengan hanya menyisakan celana dalamnya, dia pun beralih untuk meneruskan usahanya melepas rok Sinta. Sekarang baru dituruti tapi juga sama menyisakan celana dalamnya. Tentu saja Icar mengerti bahwa Sinta masih malu-malu, dia tidak memaksa dan kembali menarik Sinta bersandar dalam pelukan di dadanya.

Di situ dia mulai dengan mengecup pipi Sinta sambil mengusap-usap pinggang bergerak meremas lembut masing-masing pangkal bawah susu si gadis yang masih tertutup kutangnya.

“Sinta kurus ya?” tanya Sinta sekedar menghilangkan salah tingkah karena susunya mulai digerayangi Icar.

“Ah nggak, kamu malah bodimu bagus sekali Sin.” jawab Icar memuji Sinta apa adanya karena memang tubuh gadis ini betul-betul berlekuk indah menggiurkan.

“Tapi Icar  kan senengnya sama yang mantep, yang hari itu Sinta liat ceweknya montok banget..” 

“Iya tapi orangnya jelek, udah tua. Abisnya nggak ada lagi sih? Maunya nyari yang cakep kayak Sinta gini. Kalo ini baru asyik..” rayu Icar sambil kali ini mencoba untuk membuka pengait bra Sinta yang kebetulan terletak di bagian depan.

“Icar  sih ngerayu. Buktinya belon apa-apa udah bilang asyik duluan?”

“Justru karena yakin maka Icar  berani bilang gitu. Coba aja pikir, ngapain Icar sampe berani ngajak Sinta padahal jelas-jelas udah tau temen baiknya Asmi, ya nggak?

Kalo bukan lantaran tau kapan lagi dapet asyik ditemenin cewek secakep Sinta, tentu Icar nggak akan nekat gini. Udah lama Oom seneng ngeliat kamu Sin

” Sinta kena dipuji rayuan yang memang masuk akal ini kontan bersinar-sinar bangga di wajahnya. 

Perempuan kalau terbidik kelemahannya langsung jadi murah hati, segera mandah saja dia membiarkan kutangnya dilepas sekaligus memberikan kedua susu telanjangnya yang berukuran sedang membulat kenyal mulai diremas tangan Icar.

“Emangnya, Icar seneng sama Sinta sejak kapan? Kayaknya sih Sinta liat biasa-biasa aja?”

“Dari Sinta mulai dateng-dateng ke rumah udah ketarik sama cantiknya, cuma masak musti pamer terang-terangan? Tiap kali ngeliat rasanya gemeesss sama kamu..

” bicaranya menyebut begitu sambil secara tidak sengaja memilin puting susu di tangannya membuat si gadis lagi-lagi menggelinjang manja.

“Aaa.. gemes mau diapain?!” “Gemes mau dipeluk-pelukin gini, dicium-ciumin gini, atau juga diremes-remesin gini..

sshmmm..” jawab Icar dengan memperlihatkan contoh cara dia mendekap erat, mengecup pipi dan meremas susu Sinta.

“Terusnya apalagi?” “Terusnya yang terakhir ininya..

Apa sih namaya ini?” tanya canda Icar yang sebelah tangannya sudah diturunkan ke selangkangan Sinta, langsung meremas bukit vagina yang menggembung dan merangsang itu.

“Itu bilangnya.. memek.” jawab Sinta dengan menoleh ke belakang sambil menggigit kecil bibir Icar. 

Bahasanya vulgar tapi Icar malah senang mendengarnya. “Iya, kalau memek Sinta ini dimasukin, boleh kan?”

“Dimasukin apa..?” “Ini, apa ya bilangnya?” tanya lagi Icar dengan mengambil sebelah tangan Sinta meletakkan di jendulan penisnya.

“Aaa.. ini kan bilangnya kontol.. Dimasukin ini bahaya, kalo hamil malah ketauan orang-orang?” 

Sinta bergaya pura-pura takut tapi tangannya malah meremas-remas jendulan penis itu.

“Jangan ambil bahayanya, ambil enaknya aja.

Nanti beliin pil pencegah hamilnya.” “Tapinya sakit nggak?” tanya Sinta sambil mematikan rokoknya ke asbak.

“Kalo udah dicoba malah enak. Yuk kita pindah ke tempat tidur?” Icar mengajak tapi sambil membopong Sinta pindah ke tempat tidur untuk masuk di babak permainan cinta.

Di sini Sinta mulai memasrahkan diri ketika tubuhnya mulai digeluti kecup cium dan raba gemas yang menaikan birahi nafsunya. Sinta sudah pernah begini dengan dr.Budi, caranya hampir sama dan dia senang digeluti laki-laki yang sudah berumur seperti ini. Karena mereka bukan hanya lebih pengalaman tapi juga lebih teliti jika mengecapi tubuh perempuan, apalagi gadis remaja seperti dia.

Asyik rasanya menggeliat-geliat, merengek-rengek manja diserbu rangsangan bernafsu yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.

“Ahahhggg.. gellii.. Sshh.. iihh.. sakit gitu.. sssh.. hnggg..” Mengerang antara geli dan perih tapi dengan tertawa-tawa senang, yang begini justru memancing si Icar makin menjadi-jadi.

Icar yang nampaknya baru kali ini bergelut dengan seorang gadis remaja cantik tentu saja terangsang hebat, hanya saja dia sayang untuk terburu-buru dan masih senang untuk mengecapi sepuas-puasnya tubuh mulus indah yang dagingnya masih padat kencang ini. Dari semula saja dia sudah nekat melupakan bagaimana status hubungannya dengan Sinta apalagi setelah dilanda nafsu tinggi seperti ini.

Anak gadis teman baiknya dan sekaligus sahabat anaknya ini begitu merangsang gairahnya membuat dia jadi terlupa segala-galanya. Sinta yang sudah memberi celana dalamnya diloloskan jadi telanjang bulat sudah rata seputar tubuhnya dijilati dengan rakus. Diberi bagian susunya dihisap saja sudah membuat Icar buntu dalam asyik.

Sibuk mulutnya menyedot berpindah-pindah diantara kedua puncak bukit yang membulat kenyal lagi pas besarnya itu, lebih-lebih waktu Sinta di bagian terakhir memberikan vaginanya dikecapi mulutnya. Jangan bilang lagi, seperti anjing kelaparan dia menyosor menjilat dan menyedot celah merangsang itu sampai tidak peduli tingkatan kesopanan lagi.

Sahabat anak gadisnya yang biasanya hormat sopan kalau datang ke rumahnya, sekarang santai saja menjambak rambutnya atau mendekap kepalanya mempermainkan seperti bola kalau sosoran mulut rakusnya membuat geli yang terlalu menyengat.

“Ssshh.. aahnggg.. geliii...” Icar seru memuasi rasa mulutnya yang tentu saja membuat Sinta terangsang tinggi dalam tuntutan birahinya, tapi begitu pun jalan pelepasan yang diberikan betul-betul memuaskan sekali.

Pada gilirannya Icar merasa cukup dan menyambung untuk mengecap nikmatnya jepitan ketat vagina muda si gadis, di sinilah baru terasa asyiknya penis ayah sahabatnya. Sewaktu partama dimasuki, Sinta masih memejamkan mata, dia baru tersadar ketika batang itu sudah setengah terendam di vaginanya. Agak ketat sedikit rasanya.

Membuka mata melirik ke bawah, dia langsung bisa mengira-ngira seberapa besar batang itu. 

“Aahshh..” dia mengerang dengan gemetar kerinduan nafsunya hanya saja tangannya mengerem pinggul Icar agar tidak sekaligus tancap masuk. Meskipun tidak diutarakan Sinta lewat kata-kata tapi Icar mengerti maksudnya. Dia meredam sedikit emosinya dan menusuk sambil membor penisnya lebih kalem. Di situ batang penis ditahan terendam sebentar untuk membawa dulu tubuhnya turun menghimpit Sinta lalu dari situ dia berlanjut membor sambil mulai memompa pelan naik turun pantatnya.

Untuk beberapa saat masuknya batang diterima Sinta masih agak tegang, tapi ketika terasa mulai licin dan sudah mulai bisa menyesuaikan dengan ukuran Icar. Dia pun mulai meresapi nikmatnya batang Icar.

“Wihhh.. ennaak sekalii!” begitu ketat dan begitu mantap gesekannya membuat Sinta langsung terbuai dengan nikmat sanggama yang baru dibukanya dengan batang kenikmatan Icar. Saking asyiknya kedua tangan dan kakinya naik mencapit tubuh Icar seolah-olah menjaga agar kenikmatan ini tidak dicabut lepas sementara dia sendiri mulai ikut aktif mengimbangi kocokan penis dengan putaran vaginanya yang mengocok.

Disambut kehangatan begini Icar tambah bersemangat memompa, semakin lebih terangsang dia karena Sinta meskipun tidak bersuara tapi gayanya hangat meliuk-liuk setengah histeris. Bergerak terus dengan tangan menggaruk kepala Icar, kakinya yang membelit tidak ubahnya bagai akan memanjat tubuh.

Kelihatan repot sekali gerak sanggamanya yang seperti tidak bisa diam itu, apalagi ketika menjelang sampai ke puncak permainan, tambah tidak beraturan Sinta menggeliat-geliat. Sementara itu si Icar yang sudah serius tegang juga hampir mencapai ejakulasinya. Beberapa saat kemudian keduanya tiba dalam orgasme secara bersamaan.

Sinta yang mulai duluan dengan memperketat belitannya.

“Aduuhh.. ayyuhh.... shh.. ahgh.. iyya.. duhh.. aahhh.. hgh.. aaahh.. aeh.. ahduhh.. sshhh.. hheehh.. mmhg.. ayoh.. Sin..” saling bertimpa kedua suara masing-masing mengajak untuk melepas seluruh kepuasan dengan sentakan-sentakan erotis.

Sama-sama mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dalam jumpa pertama ini, sehingga ketika mereda keduanya pun menutup dengan saling mengecup mesra, gemas-gemas sayang tanda senangnya. Begitu nafas mulai tenang, Sinta memberi isyarat menolak tubuh Icar meminta lepas, tapi sementara si Icar berguling terlentang di sebelah, dia sudah mengejar, memeluk dengan memegang batangnya dan merebahkan kepalanya di dada Icar.

Meremas-remas gemas sambil memandangi batang yang masih mengkilap lengket itu.

“Bandel nihh.. maen nyodok aja?” komentar Sinta sambil menarik penis Icar.

“Abis kamunya juga bikin penasaran aja sih?” balas Icar dengan tangannya merangkul leher bermain lagi di susu Sinta.

“Icar seneng ya sama aku?” “Oo.. jelas suka sekali Sayaang.. Abis, kamu memang cantik, memeknya juga enak sekali..” kali ini dagu Sinta diangkat, bibirnya digigit gemas oleh Icar.

Sinta langsung bersinar bangga dengan pujian itu. Itu pembukaan hubungan gelap mereka yang sejak itu berlangsung secara sembunyi-sembunyi dengan jadwal rutin karena masing-masing seperti merasa ketagihan satu sama lain.

Icar jelas senang dengan teman kencan yang cantik menggiurkan ini. Permainan selalu memilih tempat di hotel di luar kota tapi sekali pernah Sinta mendapat pengalaman yang unik serta konyol di rumah Icar sendiri.

Minggu, 08 April 2018

Kenangan Seks Masa Kecil Ku

Kenangan Seks Masa Kecil Ku
99Taipan.com | Taipan Indonesia | Taipan Asia | Bandar Taipan | BandarQ Online | Domino99
Masa laluku di kampung kalau kuingat-ingat menggelikan juga. Kok bisa-bisanya ya waktu aku masih pacaran malah sudah berbuat jauh pula. Ceritanya gini. Waktu itu aku tinggal di desa yang jauh dari kota. Anak-anak di desa tidak bermain di mall seperti di kota, lha wong di desa gak ada mall. Yang ada cuma pasar, itu pun tidak setiap hari ada. Pasar ramai pada hari-hari tertentu saja.

Kami anak anak, waktu itu kalau nggak salah ingat aku masih kelas 2 SMP kalau menghabiskan waktu bermain di sawah, dirumah kadang-kadang berenang di sungai. Cari ikan, cari buah-buahan ya apa saja. Kalau malam kami sering main di halaman rumahku yang luas. Kebetulan halaman rumahku seperti memiliki alun-alun kecil di samping rumah, jadi tempat itu dijadikan pusat bermain anak-anak di sekitar rumahku.

Soal bermain-main rasanya tidak usaha dibahas panjang lebar. Ada satu permainan yang mengesankan dan sampai sekarang masih terus ku ingat , sehingga akhirnya aku tuturkan dalam cerita ini . Kami jika selepas magrib sering berkumpul, anak laki-laki dan perempuan. Umumnya usia kami sebaya antara kelas 6 SD dan kelas 2  SMP.

Pada usia segitu, kami belum merasa berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Jadi tidak ada rasa risi misalnya aku laki-laki bermain dengan anak perempuan. Hanya saja mainan khas anak perempuan, kami yang laki-laki tidak memainkannya. Namun ada mainan yang laki perempuan berbaur. Permainan itu adalah main umpet-umpetan atau bersembunyi. Aturan mainnya tidak usah aku jelaskan, karena nanti jadi nglantur. Kuanggap semua pembaca udah tau lah

Permainan umpet-umpetan biasa kami mainkan selepas waktu magrib sampai sekitar jam 9. Kuingat benar waktu itu aku merupakan anak yang pandai bersembunyi sehingga aku jarang ditemukan. Ketika giliran aku bersembunyi aku segera berlari ke belakang rumah yang agak gelap. Kebetulan di situ ada lemari yang baru setengah jadi. Posisinya tidak terlalu rapat ke dinding.

Diantara celah itulah aku bersembunyi. Rupanya Ida mengikutiku mencari persembunyian. Ketika aku menyelip diantara lemari dengan dinding dia memaksa ikut pula bersembunyi disitu. Celahnya tidak begitu besar, tetapi untuk dua anak seusia kami masih bisa muat, tapi ya harus berdiri berhimpitan. Ida memaksa bersembunyi bersamaku, sehingga badan kami berhimpitan di sela-sela lemari itu.

Dia membelakangiku sehingga aku seperti memeluk Ida dari belakang. Pantatnya yang agak tonggeng menekan bagian kemaluanku. Kami berusaha tidak menimbulkan suara sehingga berdiri mematung. Namun penisku yang tertekan pantat Ida rupanya memberi rangsangan. Tanpa aku sengaja, penisku jadi menegang.

“Apaan sih ini keras-keras,” kata Ida merasa risi, karena penisku menekan pantatnya.

“Jangan berisik nanti ketauan,” kataku.

Ida akhirnya diam, dan aku merasakan kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhku. Mungkin karena naluri, aku memeluk Ida lebih rapat. Padahal pada waktu itu aku belum pernah merasakan nafsu kepada perempuan. Namun karena dorongan naluri saja mungkin maka aku memeluk Ida lebih rapat, agar kemaluanku lebih tertekan. Ida diam saja.

Mungkin sekitar 5 menit sampai terdengar Udin berteriak menyerah baru kami keluar dari persembunyian. Berikutnya aku kembali sembunyi di tempat tadi. Ternyata Ida kembali mengikutiku. Posisinya sama lagi seperti tadi. Aku kembali memeluk Ida rapat-rapat, karena rasanya nikmat sekali penisku tertekan pantat Ida.

Aku tidak ingat benar asal muasalnya, tetapi ketika tanganku memeluk, aku menyentuh dada Ida. Ada setumpuk daging empuk. Kemaluanku makin mengeras dan aku gesek-gesekkan. Ida rupanya risih karena tanganku menyentuh teteknya yang baru tumbuh dan penisku menekan-menekan pantatnya. Tanganku ditepisnya dari wilayah dada dan dia kelihatannya tidak suka aku pegang tetek kecilnya. 

Kuingat betul waktu itu Ida hanya mengenakan kaus oblong dan seperti singlet dilapisan dalamnya. Aku lalu mengingatkan Ida agar tidak berisik. Dia kemudian menurut dan diam, tapi tanganku berusaha disingkirkannya dari susu kecilnya. Tapi aku suka memegang susu kecilnya rasanya kok enak, empuk-empuk gitulah.

Dia lalu aku ancam, kalau tanganku tidak boleh memegang dadanya dia akan kutinggal bersembunyi di tempat lain. Ida yang penakut akhirnya menahan agar aku tidak pergi. Dia akhirnya membiarkan tanganku meremas-remas teteknya. “Jangan keras-keras mas, sakit,” katanya. Aku meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keempukan tetek kecilnya.

Lama-lama aku bosan meremas dadanya dari luar. Aku ingin tahu bagaimana sesungguhnya bentuk teteknya. Aku berusaha memasukkan tanganku dari bawah. Belum kesampaian maksudku, Ida sudah mencegah. Aku kembali mengancam akan meninggalkannya. Dia yang penakut akhirnya menyerah dan membiarkan aku menjulurkan tanganku dari bawah kausnya.

Ketika aku jamah masih terasa ada penghalang kaus singletnya. Aku lalu menyuruh Ida untuk mengeluarkan kaus singletnya. Ida menuruti dan aku segera menggapai buah dada kecil. Waktu itu kurasa lucu sekali, ada daging empuk nyembul sepasang dan ujungnya agak mengeras kecil. Ida diam saja kuremas-remas, dia hanya mengingatkanku agar jangan terlalu keras meremasnya.

Kepala Ida kemudian malah disandarkan ke bahuku. Aku heran, dia bernafas seperti kecapaian habis lari-lari. Aku waktu itu sungguh tidak mengerti. Setelah puas, aku mengakhiri meremas-remas dada Ida. Kami pun lalu kembali berkumpul dengan anak-anak lainnya. Malamnya aku tidak bisa tidur, memikirkan perasaan nikmat meremas tetek si Ida. Timbul di pikiranku untuk lain waktu melihat bentuknya.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika suatu hari aku bersama Ida mencari kayu bakar di hutan. Hutan kecil letaknya agak jauh di belakang rumahku. Kami jalan berdua melintasi sawah yang habis dipanen. Di hutan, yang sebetulnya bukan hutan lebat, kami mengumpulkan ranting-ranting kering. Setelah cukup banyak dan diikat agar mudah membawanya kami pun istirahat.

Di situ kebetulan ada pohon seri. Kami mengambil buah-buah seri yang sudah merah dan segera melahapnya. Lumayan juga untuk mengatasi haus. Di bawah pohon seri itu cukup bersih karena tidak ada rumput. Tanahnya seingatku ditutupi oleh guguran daun kering, sehingga kami bisa istirahat duduk di bawah kerindangannya.

Aku teringat oleh keinginanku melihat dada Ida. Keinginan itu aku sampaikan ke Ida, tanpa basa-basi. Maklumlah anak-anak tidak mengerti soal merayu dan basa basi. Ida serta merta menolak keinginanku sambil menutup kedua tangannya ke dadanya.

Ah sialan pikirku, bertingkah amat si Ida. Aku lalu mengeluarkan jurus ancaman. Kalau dia tidak mau memperlihatkan teteknya maka aku tidak mau menemaninya lagi mencari kayu bakar. Kayu bakar memang hanya ada dihutan ini. Kami warga desa umumnya memasak dengan kayu bakar, sehingga jika Ida tidak mencari kayu bakar dia akan dimarahi ibunya.

“Ya udah, tapi jangan lama-lama ya aku malu, tau,” katanya yang kuingat waktu itu.

Ida lalu kusuruh membuka atasannya. Dia membuka atasannya, tapi menutup dadanya dengan baju yang sudah terbuka. Aku tentu saja protes karena tidak bisa melihat. Dibukanya sebentar lalu ditutup lagi. Aku kurang puas dengan melihat sepintas lalu. Aku mau melihatnya sepuas-puasnya. Kemaluan ku sudah mengeras dari tadi. Setiap aku mengingat dada Ida aku selalu begini.

Ida akhirnya membiarkan aku melihat sepuasnya. Aku bahkan kemudian meraba dan menekan-nekan dada montok tapi masih kecil. Kulihat bentuknya lucu dengan ujung lancip berwarna agak gelap. Puting susunya kelihatannya masih sama besarnya dengan punyaku.

“Pelan-pelan mas, sakit kalau diremas kuat-kuat.

Aku meremas-remas sepuasku dan memperhatikan tetek kecil Ida dari depan. Tiba-tiba Ida memelukku dari depan. Aku tidak tahu kenapa dia jadi begitu. Aku protes karena jadi susah melihat dan memegang teteknya, tapi Ida malah makin erat memelukku. Penisku jadi tertekan perutnya, sehingga rasanya jadi makin keras aja.

Ida kubaringkan dikakiku pada posisi bersila. Dia melemas dan mengikuti kemauanku. Mungkin karena tidak sengaja roknya terangkat agak tinggi. Aku lalu menyingkap roknya. Tapi tangan ida segera mencegah dan menurunkan kembali roknya.

Aku waktu itu minta agar Ida memperbolehkan aku melihat sebentar saja. Mungkin karena dia sudah agak terangsang atau karena takut tidak aku temani cari kayu bakar akhirnya aku boleh menyingkap roknya.

Ida mengenakan celana dalam dari katun yang agak longgar, sehingga sebagian kemaluannya terlihat dari samping. Ini membuatku penasaran untuk sekalian melihat kemaluannya. Tanpa bilang apa apa aku berusaha menguak bagian samping celananya untuk melihat bentuk kemaluan Ida. Ida terkejut dan tangaku dipegangnya.

Aku bilang aku ingin liat sebentar saja. Agak lama akhirnya dia baru melepas tanganku. Aku menguak celana dalamnya . kelihatan belahan memeknya dengan benjolan kemaluan. Aku ingat waktu itu Ida belum memiliki jembut, jadi masih pelontos. Diantara belahan itu seperti ada daging tumbuh menyembul. Aku makin penasaran sehingga ingin menguak belahan memeknya. Namun karena celah celana dalamnya tidak begitu besar jadi agak susah melihat celah memek Ida.

Aku kemudian menurunkan celana dalamnya. Meski Ida berusaha menahannya, tetapi akhirnya aku berhasil melepas celana dalamnya. Setelah terlepas aku duduk diantara kedua pahanya yang dikangkangkan. Aku puas melihat belahan memek Ida yang warnanya memerah. Sembulan daging yang muncul diantara memek Ida tadi rupanya adalah bibir memeknya.

Aku baru tau kalau memek perempuan itu adanya dibagian bawah. Tadinya aku kira berada di depan seperti kemaluan laki-laki. Bentuk memek perempuan lucu banget, belahannya terus menyambung sampai ke pantat. Aku lihat dengan melebarkan lipatan memeknya ada lubang kecil. Aku kira disitulah lubang kencing perempuan.

Ida protes ketika memeknya aku sibak-sibak, sakit katanya. Setelah puas aku mengakhiri permainan itu dan kami kembali pulang menggendong kayu bakar. Ida menjadi patner tetapku mencari kayu bakar. Jika ada anak lain yang mau ikut kami larang. Sebabnya setiap kami mencari kayu bakar aku selalu membuka memek Ida. Rasanya kok menyenangkan melihat memeknya berkali-kali. Jadi setiap kali sudah melihat, rasanya seperti lupa jadi ingin lihat lagi keesokan harinya.

Aku terbiasa melihat memek Ida, dan ida pun sudah tidak lagi mencegah jika aku ingin melihat memeknya. Kami sudah bebas. Satu kali Ida protes karena dia belum pernah melihat kemaluanku. Aku waktu itu benar-benar malu, untuk menunjukkan kemaluanku ke Ida. Ida kemudian mengancam tidak mau lagi membuka baju dan celananya kalau aku tidak memperlihatkan burungku.

Aku akhirnya menyerah dan memelorotkan celanaku sebentar memperlihatkan burungku yang ngacung lalu buru-buru menutupnya lagi. Ida tentu saja protes. Akhirnya kami berdua sepakat untuk bersama sama membuka celana. Dengan hitungan 1,2,3 celana kami buka. Ida tertawa geli melihat burungku.

Aku waktu itu sudah sunat, sehingga ada bentuk topi baja di ujung penisku. Mulanya aku tidak mau burungku dipegang Ida, Tapi karena dia bilang tidak adil. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan dia memegang burungku. Burungku dipencet agak kuat. Aku kaget dan menarik tubuhku, karena sakit. Aku minta Ida memegangnya jangan ditekan kuat-kuat. Akhirnya Ida memegang agak lembut. Ada rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhku.

Kuajari Ida agar menggengam penisku dengan lembut. Dia menuruti dan aku merasa makin nikmat. Mungkin juga karena naluri aku menggenggam tangan Ida yang sedang menggenggam penisku dan melakukan gerakan mengocok. Padahal aku waktu kelas 2 SMP belum tahu soal onani. Rasanya nikmat sekali dikocok tangan Ida. Dia kuminta melakukan terus sementara aku berusaha memegang teteknya lalu memeknya.

Tiba-tiba knikmatan luar biasa menjalar kelseluruh tubuhku. Aku merasakan denyut-denyut nikmat dan Ida kuminta menghentikan kocokan. Diujung penisku keluar cairan bening kental, tetapi mungkin cuma 2 tetes. Aku pada waktu itu belum mengalami mimpi basah.

Kami kemudian sering melakukan adegan seperti itu ketika mencari kayu bakar. Aku bahkan sudah membuat tempat khusus untuk kencan kami, yaitu ditengah semak dan di situ kami gelar lembaran tikar bekas dan dibawahnya dilapisi daun-daun kering. Tempatnya agak jauh ke dalam hutan.

Suatu kali aku teringat anjing melakukan hubungan kelamin, ketika kami sedang bercumbu. Tapi aku takut memasukkan penisku ke dalam lubang memek Ida, karena takut tidak bisa lepas seperti anjing yang sering aku lihat. Aku hanya ingin menempelkan ujung penisku ke lubang memek Ida . Ketika kucoba pertama kali rasanya lebih nikmat. Aku menggeser-geser penisku di memek Ida sampai aku puas.

Percumbuan kami terus mengalami kemajuan, sampai akhirnya aku mencoba menutup lubang memek Ida dengan kepala penisku. Berkali-kali kepala penisku meleset, seperti tidak bisa ditempatkan di memeknya. Aku pun berkali-kali berusaha, sampai akhirnya dengan menguak belahan memek Ida kepala penisku bisa menutup lubang memek Ida.

Aku tekan-tekan, rasanya nikmat sekali, semakin aku tekan rasanya semakin nikmat. Sementara itu Ida protes karena dia katanya merasa sakit dan perih. Tapi aku yang dikuasai nafsu tidak perduli, sampai aku mencapai kepuasan. Acara mengocok penisku dengan tangan sekarang sudah lagi tidak dilakukan. Aku selalu berusaha menutup kepala penisku ke belahan memek Ida.

Aku mendapat akal agar mudah menutup kepala penisku di lubangnya memek ida maka kepala penisku kulumuri ludah. Dengan begitu rasanya lebih mudah bagiku menempatkan kepala penisku sehingga tidak kepeleset kemana-mana. Aku merasa sangat nikmat dan mungkin karena rasa nikmat itu aku menekan penisku makin keras.

Aku tidak ingat akan anjing yang kelaminnya tidak bisa lepas sehabis kawin. Rasa nikmat itu membuatku menekan keras dan memaju mundurkan. Rasanya waktu itu aku bisa maju mundur sedikit-sedikit di memek Ida sampai aku mencapai kepuasan. Sudah berapa kali aku dan Ida melakukan posisi seperti itu sampai akhirnya Ida tidak terlalu merasa sakit lagi.

Anehnya Penisku bisa lebih mudah menancap di memek ida meski hanya kepalanya saja. Memek Ida jika aku tekan-tekan lama-lama seperti mengeluarkan lendir sehingga jadi licin. Itulah sebabnya suatu kali aku tidak sengaja menekan terlalu keras ketika melakukan maju mundur sehingga penisku kejeblos ke dalam memek Ida. Ida menjerit dan dia menangis kesakitan. Aku pun terkejut, karena merasa penisku tenggelam di memek Ida.

Tapi kok rasanya lebih nikmat. Tiba-tiba aku ingat soal anjing yang penisnya lengket. Buru-buru aku cabut. Ternyata bisa. Kulihat penisku berdarah, meski tidak banyak. Kuperhatikan memek Ida tidak ada darah meleleh. Aku lalu berpikir mungkin penisku lecet sehingga berdarah. Aku menyekanya dengan lap handuk yang selalu aku bawa untuk menyeka keringat. Kucermati penisku tidak terluka dan tidak ada rasa sakit. Sementara Ida mengeluh bahwa memeknya terasa perih.

Aku menduga mungkin memek Ida yang lecet karena aku terlalu dalam tadi membenamkan penisku. Dia mengambil sapu tangan handuknya dan melap celah memeknya. Terlihat disitu ada sedikit warna merah muda. Aku kali itu mengakhiri permainan sebelum aku mencapai kepuasan. Aku terpaksa membopong kayu bakar Ida, karena katanya dia agak sakit kalau berjalan.

Jalannya pada awalnya agak aneh, tetapi lama-kelamaan jadi normal. Lebih dari seminggu aku tidak mengulangi adegan menancapkan penisku, meskipun aku punya keinginan kuat. Ida beralasan memeknya perih. Mungkin 10 hari kemudian akhirnya Ida mau kembali melakukan adegan itu. Penisku agak mudah dimasukkan ke memek Ida, meski Ida mengernyit masih agak sakit katanya. 

Tapi aku merasa kenikmatan luar biasa ketika penisku terasa dicengkam oleh memek Ida. Aku melakukan gerakan maju mundur berkali-kali sampai akhirnya puas. Penisku sampai melemah di dalam memek Ida. Setelah sekitar 5 kali permainan pada hari-hari berikutnya akhirnya aku lebih mudah memasukkan penisku ke memek Ida.

Ternyata penisku lebih nikmat jika dijepit memek Ida dari pada hanya digenggam-gengam. Aku jadi terbiasa melakukan persetubuhan dengan Ida dan akhirnya menjadi kecanduan. Ida pun tampaknya sudah mulai menikmati persetubuhan karena pantatnya bergoyang-goyang ketika aku tusuk dengan penisku. Kami biasanya melakukan sampai 2 ronde di dalam hutan.

Bahkan malam-malam kami melakukan lagi di bale-bale belakang rumah yang gelap. Kami merahasiakan hubungan kami itu, meskipun aku rasanya ingin menceritakan pengalamanku yang mengasyikkan kepada teman-temanku. Tapi aku takut ketahuan, karena teman-temanku bisa saja tidak menjaga rahasia itu.

Sekitar setahun kemudian keluarga Ida pindah ke kota, sehingga aku kehilangan patner. Tetapi aku bisa membujuk teman cewekku yang lain untuk melakukan hubungan itu. Rita yang badannya lebih besar dari Ida berhasil aku setubuhi. Dia mulanya merasa sakit, tapi lama kelamaan dia juga bisa menikmati seperti halnya Ida.

Dari pelajaran biologi aku mengetahui kemudian bahwa jika sperma masuk ke dalam memek perempuan bisa menyebabkan kahamilan, aku kemudian membatasi tidak melepas spermaku, ketika suatu kali aku mulai memiliki sperma.

Ada sekitar 3 cewek yang sudah kusetubuhi di kampungku sampai aku akhirnya meneruskan sekolah di kota meneruskan SMA.